Staimadina.ac.id – Calon Gubernur Jakarta, Pramono Anung, memberikan pernyataan mengejutkan terkait visi ekonomi Jakarta di masa depan. Di tengah ambisi besar pemerintah pusat pimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen, Pramono justru bersikap realistis. Ia mengakui bahwa mencapai angka pertumbuhan 8 persen bagi Jakarta merupakan tantangan yang sangat berat.
Pernyataan ini muncul saat Pramono menghadiri diskusi panel bersama para pengusaha dan pengamat ekonomi di Jakarta Pusat, Kamis (16/4/2026). Meskipun ia tetap mendukung visi besar pemerintah pusat, Pramono menekankan pentingnya melihat data objektif di lapangan.
Realitas Ekonomi Jakarta Saat Ini
Pramono menjelaskan bahwa struktur ekonomi Jakarta saat ini sudah sangat matang, namun juga menghadapi titik jenuh di beberapa sektor. Pertumbuhan ekonomi Jakarta dalam beberapa tahun terakhir biasanya berada di kisaran 4,8 persen hingga 5,2 persen. Lonjakan menuju 8 persen dalam waktu singkat memerlukan keajaiban ekonomi atau perombakan sistem yang sangat masif.
Menurut Pramono, Jakarta kini sedang dalam masa transisi dari status Ibu Kota Negara (IKN) menjadi pusat ekonomi global. Perubahan status ini membawa dampak psikologis dan administratif yang memengaruhi aliran investasi. “Kita harus bicara jujur pada warga. Menaikkan pertumbuhan dari 5 persen ke 8 persen itu bukan sekadar membalikkan telapak tangan,” ujar Pramono di depan para peserta diskusi.
Tiga Penyebab Utama Target 8 Persen Terasa Berat
Pramono menguraikan secara rinci faktor-faktor yang menghambat akselerasi ekonomi Jakarta menuju angka psikologis 8 persen:
1. Dampak Perpindahan Ibu Kota (IKN)
Perpindahan pusat pemerintahan ke Kalimantan Timur secara perlahan mengurangi belanja pemerintah pusat di Jakarta. Ribuan aparatur sipil negara (ASN) dan berbagai kegiatan kementerian tidak lagi berpusat di Jakarta. Hal ini menyebabkan penurunan konsumsi rumah tangga dan sektor jasa yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi Jakarta.
2. Sektor Manufaktur yang Mulai Bergeser
Jakarta kehilangan banyak basis industri manufaktur. Banyak pabrik dan industri besar pindah ke wilayah Jawa Barat atau Jawa Tengah demi mencari upah minimum yang lebih kompetitif dan lahan yang lebih luas. Kini, Jakarta hanya menyisakan sektor jasa dan perdagangan yang pertumbuhannya lebih stabil namun sulit melesat secara eksponensial.
3. Masalah Ketimpangan dan Daya Beli
Pramono menyoroti daya beli masyarakat kelas menengah di Jakarta yang sedang mengalami tekanan. Inflasi pada sektor pangan dan biaya transportasi membuat warga lebih banyak menabung atau menahan belanja. Padahal, ekonomi Jakarta sangat bergantung pada konsumsi domestik. Jika daya beli melemah, maka target 8 persen hanyalah angka di atas kertas.
Strategi Pramono: Realistis tapi Optimis
Meski mengakui target tersebut berat, Pramono tidak menyerah begitu saja. Ia menawarkan pendekatan baru untuk tetap mendorong ekonomi Jakarta agar tetap tumbuh di atas rata-rata nasional. Ia menyebutkan bahwa Jakarta harus fokus pada ekonomi kreatif dan digital sebagai motor baru.
Ia berencana mempermudah izin bagi perusahaan rintisan (startup) dan membangun ekosistem digital di setiap kecamatan. Pramono juga ingin mengaktifkan kembali pasar-pasar tradisional dengan sentuhan teknologi agar UMKM Jakarta bisa naik kelas dan berkontribusi lebih besar pada PDRB (Produk Domestik Regional Bruto).
“Saya lebih memilih target yang terukur. Lebih baik kita konsisten di angka 6 persen dengan pemerataan yang nyata, daripada kita memaksakan 8 persen tapi hanya segelintir elite yang merasakannya,” tegas Pramono.
Respon Pelaku Usaha dan Pengamat Pramono
Pernyataan Pramono ini mendapat tanggapan beragam. Beberapa pelaku usaha menilai sikap sebagai bentuk kejujuran yang pengusaha perlukan. Dunia usaha lebih menyukai kepastian dan kejujuran data daripada janji politik yang muluk-muluk.
Namun, pengamat ekonomi mengingatkan bahwa Jakarta sebagai motor ekonomi nasional tetap memiliki tanggung jawab besar untuk mendukung target Presiden. Jakarta harus menemukan “mesin pertumbuhan baru” seperti pusat keuangan internasional atau pariwisata berbasis event skala dunia jika ingin mendekati angka 8 persen.
Langkah Pramono Selanjutnya untuk Jakarta
Anung berkomitmen untuk membawa Jakarta melewati masa transisi pasca-IKN dengan aman. Ia akan memprioritaskan perbaikan birokrasi dan kemudahan investasi sebagai langkah awal. Baginya, pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan penurunan angka pengangguran dan pengentasan kemiskinan di kampung-kampung Jakarta.
Publik kini menanti bagaimana rival-rival di Pilkada Jakarta menanggapi isu pertumbuhan 8 persen ini. Apakah mereka akan menawarkan angka yang lebih berani, atau justru mengikuti garis realistis yang Pramono sampaikan hari ini.
Pramono Anung Target Ekonomi
Pramono Anung membumikan ekspektasi warga Jakarta terkait target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Dengan mengakui berbagai kendala struktural, Pramono mencoba membangun citra sebagai pemimpin yang berbasis data dan fakta. Tantangan ekonomi Jakarta di tahun 2026 memang nyata, terutama menghadapi status baru sebagai kota global tanpa gelar Ibu Kota.