Staimadina.ac.id – Suasana prosesi Wisuda Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kali ini terasa sangat berbeda. Kehadiran Menteri Transmigrasi (Mentrans) di tengah-tengah ribuan wisudawan membawa pesan yang menyentuh relung hati. Alih-alih hanya membahas soal angka kelulusan atau dunia kerja, sang Menteri justru mengajak seluruh hadirin untuk menundukkan kepala sejenak. Beliau hadir secara khusus untuk mengenang dan memberikan penghormatan kepada sosok patriot muda, Abdul Rohid.
Nama Abdul Rohid memang tidak asing lagi di telinga sivitas akademika ITS. Mahasiswa berbakat ini telah meninggalkan jejak inspirasi yang begitu dalam sebelum berpulang. Kehadiran Mentrans di podium wisuda menegaskan bahwa dedikasi Rohid bagi bangsa mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya dari negara.
Siapa Sosok Abdul Rohid di Mata Menteri?
Dalam pidatonya yang menggetarkan, Menteri Transmigrasi menggambarkan Abdul Rohid bukan sekadar mahasiswa biasa. Mentrans menyebutnya sebagai representasi dari “Garuda Muda” yang memiliki kepedulian sosial luar biasa. Rohid aktif dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat, termasuk proyek-proyek yang bersinggungan dengan pengembangan kawasan transmigrasi dan daerah tertinggal.
Menteri mengenang momen saat ia berdiskusi langsung dengan Rohid dalam sebuah forum pemuda setahun silam. Rohid memaparkan gagasan-gagasan segar mengenai pemanfaatan teknologi tepat guna untuk membantu petani di kawasan transmigrasi. Semangatnya yang menyala-nyala untuk membangun Indonesia dari pinggiran membuat sang Menteri terkesan hingga hari ini.
Patriotisme dalam Tindakan Nyata
Abdul Rohid membuktikan bahwa patriotisme zaman sekarang tidak lagi soal mengangkat senjata di medan perang. Ia mengimplementasikan nilai-nilai kepahlawanan melalui pengabdian ilmu pengetahuan. Selama masa kuliahnya di ITS, Rohid terlibat aktif dalam riset-riset yang menyasar langsung problem masyarakat bawah.
Beberapa poin utama yang membuat Abdul Rohid layak menyandang gelar patriot muda antara lain:
-
Inovasi untuk Rakyat: Ia merancang sistem irigasi hemat energi untuk lahan kering di wilayah terpencil.
-
Kepemimpinan yang Melayani: Rohid selalu mendahulukan kepentingan kelompok daripada ambisi pribadi dalam setiap organisasi mahasiswa.
-
Dedikasi Tanpa Batas: Meski menghadapi tantangan akademik yang berat, ia tetap konsisten terjun ke desa-desa binaan untuk membagikan ilmunya.
Mentrans menegaskan bahwa dunia membutuhkan lebih banyak anak muda seperti Rohid. Sosok yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga memiliki empati yang luas terhadap penderitaan sesama warga negara.
Pesan Kuat untuk Wisudawan ITS
Kehadiran Menteri di wisuda ini sekaligus menjadi momentum untuk menyuntikkan semangat baru bagi para lulusan muda. Menteri meminta ribuan wisudawan yang memakai toga hari ini untuk meneladani kegigihan Abdul Rohid. Beliau berharap para sarjana baru tidak hanya mengejar karier di korporasi besar, tetapi juga berani turun ke lapangan membangun daerah-daerah yang masih tertinggal.
“Negara menunggu karya nyata kalian. Jangan biarkan ilmu kalian mendekam di ruang-ruang ber-AC saja,” tegas Menteri. Beliau mengajak para wisudawan untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan yang telah Abdul Rohid mulai. Pesan ini seolah menjadi pengingat bahwa kelulusan hanyalah gerbang awal menuju pengabdian yang sesungguhnya kepada tanah air.
Isak Tangis dan Bangga Mentrans di Barisan Keluarga
Keluarga almarhum Abdul Rohid turut hadir dalam acara wisuda ini. Suasana haru pecah saat nama Abdul Rohid dipanggil ke depan secara simbolis. Sang ibu tidak mampu membendung air mata saat menerima penghargaan dari universitas dan ucapan belasungkawa langsung dari Menteri Transmigrasi.
Meskipun Rohid sudah tiada, namanya tetap harum. Wisuda ini menjadi pembuktian bahwa kerja keras dan ketulusan seseorang akan selalu meninggalkan warisan yang abadi. Pihak kampus ITS sendiri berkomitmen untuk terus menceritakan kisah sukses dan pengabdian Rohid kepada setiap mahasiswa baru sebagai contoh teladan.
ITS sebagai Kawah Candradimuka Patriot
Rektor ITS menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran Menteri Transmigrasi yang bersedia memberikan penghormatan kepada salah satu putra terbaik mereka. ITS memang memiliki sejarah panjang sebagai kampus perjuangan. Nama “Sepuluh Nopember” sendiri merujuk pada semangat heroik Arek-Arek Suroboyo.
Abdul Rohid adalah bukti nyata bahwa DNA perjuangan tersebut masih mengalir deras di tubuh mahasiswa ITS hingga saat ini. Kampus berkomitmen untuk terus mencetak lulusan yang memiliki karakter “Cerdas dan Berakhlak”, persis seperti karakter yang melekat pada diri almarhum Rohid.
Mentrans Menatap Masa Depan Sesuai Impian Rohid
Menteri Transmigrasi menutup pidatonya dengan sebuah janji. Beliau menyatakan bahwa kementerian akan mengadopsi beberapa ide inovatif yang pernah Rohid cetuskan dalam program pengembangan wilayah transmigrasi nasional. Dengan demikian, meski secara fisik Rohid telah pergi, karya dan buah pikirannya akan terus hidup dan bermanfaat bagi ribuan transmigran di seluruh pelosok Indonesia.
Kisah Abdul Rohid mengajarkan kita semua bahwa usia bukanlah penghalang untuk menjadi seorang patriot. Di usia yang masih sangat muda, ia telah memberikan kontribusi yang bahkan belum tentu bisa dilakukan oleh orang dewasa lainnya. Semangatnya kini menjadi api yang membakar semangat para wisudawan ITS lainnya untuk terbang tinggi dan membangun negeri.
Mentrans: Warisan Abadi Sang Patriot Muda
Wisuda ITS kali ini bukan sekadar seremoni pelepasan lulusan, melainkan sebuah upacara penghormatan bagi kemanusiaan. Sosok Abdul Rohid telah memberikan pelajaran berharga tentang makna hidup yang bermanfaat bagi orang lain.
Menteri Transmigrasi berhasil membangkitkan rasa bangga sekaligus haru di hati seluruh peserta wisuda. Kini, tugas para sarjana muda adalah membuktikan bahwa mereka mampu menjadi “Rohid-Rohid Baru” yang akan membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah, adil, dan sejahtera.
Selamat jalan, Abdul Rohid. Indonesia bangga memiliki putra sepertimu.